Harga gaharu kualitas baik di pasar eceran internasional, memang mencapai 15.000 dolar AS (Rp 135.000.000,-) per kg. Namun harga di tingkat pengumpul lokal, paling tinggi hanya sekitar Rp 3.000.000,- per kg. Harga kualitas lebih rendah pasti kurang dari Rp 3.000.000,- per kg. Gaharu adalah bahan parfum, kosmetik dan obat-obatan (farmasi). Nama gaharu di pasar internasional adalah aloeswood (kayu aloe), agarwood, heartwood, dan eaglewood. Gaharu murni diperdagangkan dalam bentuk gubal, serbuk dan minyak (parfum).

Serbuk gaharu digunakan untuk dupa/ratus, dan minyaknya merupakan parfum kelas atas. Serbuk gaharu sebagai dupa akan dibakar langsung dalam ritual keagamaan. Baik Hindu, Budha, Konghucu, Thao, Shinto, Islam dan Katolik. Kayu gaharu disebut sebagai kayu para dewa. Aroma gaharu karenanya dipercaya mampu menyucikan altar dan peralatan peribadatan lainnya. Selain itu dupa gaharu juga dimanfaatkan untuk mengharumkan ruangan, rambut dan pakaian para bangsawan. Aroma gaharu akan digunakan sebagai aromaterapi di spa-spa kelas atas.
Gaharu adalah getah (resin), yang menyatu dengan kayu, dan disebut gubal. Gaharu hanya dihasilkan oleh pohon genus Aquilaria, yang tumbuh di hutan belantara India, Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan Cina Selatan. Sampai saat ini, Indonesia masih merupakan pemasok produk gaharu terbesar di dunia. Meskipun populasi tumbuhan Aquilaria cukup besar, namun tidak semua pohon menghasilkan gaharu. Sebab resin itu baru akan keluar, kalau tanaman terinfeksi oleh kapang (fungus) Phialophora parasitica, atau beberapa kapang lainnya.
Akibat infeksi, tanaman mengeluarkan getah yang aromanya sangat harum. Getah ini akan menggumpal di dalam jaringan batang kayu. Tanaman Aquilaria yang tidak terinfeksi Phialophora parasitica, tidak akan beraroma harum. Genus Aquilaria terdiri dari 22 spesies. Dari 22 spesies itu, yang bisa terinfeksi kapang Phialophora parasitica hanya ada delapan spesies. Dari delapan spesies itu, yang paling potensial menghasilkan gaharu hanyalah Aquilaria malaccensis dan Aquilaria agallocha. Dan kualitas gaharu terbaik, hanya dihasilkan oleh Aquilaria malaccensis.
Dalam pertemuan ke 13 Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES CoP 13) di Bangkok, Thailand, 2 -14 Oktober 2004, genus Aquilaria telah dimasukkan dalam apendik II. Hingga pengambilan gaharu dari alam, jelas dilarang. Gaharu memang mudah dibudidayakan. Karena tanaman ini menghasilkan banyak biji. Namun bijinya tidak bisa disimpan lebih dari tiga hari, setelah dikeluarkan dari buahnya. Gaharu harus dibudidayakan di bawah naungan. Bukan di tempat terbuka.
Kapang Phialophora parasitica, sudah bisa diisolasi oleh beberapa lembaga di Indonesia. Antara lain oleh IPB, BIOTROP, dan Badan Litbang Kehutanan. Inokulasi pohon gaharu dengan kapang Phialophora parasitica, pernah dilakukan di Mataram, Lombok, namun tidak berkembang dengan baik. Yang berkembang justru program yang dilakukan oleh Badan Litbang Kehutanan di Bangka. Di sini ada pula program BIOTROP bekerjasama dengan IPB. Gubal gaharu dari Bangka sudah mulai bisa dipanen dan dipasarkan tahun 2006 yang lalu.
Jika anda serius untuk membudidayakan gaharu, kami sarankan untuk menghubungi BIOTROP atau Fakultas Biologi IPB, di Bogor, hingga Anda tidak tertipu. Sebab sekarang ini banyak pihak yang mengaku sebagai ahli inokulasi Gaharu, namun dalam praktek mereka hanya akan menguras kantong anda. Atau mereka mengincar pemilik pohon gaharu yang umurnya sudah di atas 10 tahun, untuk segera diinokulasi dan diambil gaharunya. Itulah sebabnya Anda harus ekstra hati-hati.











